July 19, 2008

Movie Review: Wanted


****

Release Date:
Jun 27, 2008
Studio:
Universal Pictures
Starring: James McAvoy, Morgan Freeman, Angelina Jolie, Thomas Kretschmann, Common
Director: Timur Bekmambetov
Screenwriter: Michael Brandt, Derek Haas, Chris Morgan
Story: Michael Brandt, Derek Haas
Producer: Marc E. Platt, Jim Lemley, Jason Netter, Iain Smith
Composer: Danny Elfman
Genre: Action/Adventure
MPAA Rating: R


Wow. Film ini keren banget.
Gue rasa film ini terlalu singkat. Karena kalau ceritanya dikembangin lebih jauh dan lebih detail lagi, misalnya dibuat jadi serial gitu, pasti bakal tambah seru banget.
Berdasarkan serial graphic novel yang dibuat oleh Mark Millar, dan disutradarai oleh Timur Bekmambetov, pencipta franchise film tersukses di Rusia, The Night Watch series.
Ceritanya juga gak ngebosenin dan lumayan gak ketebak. Dan lebihnya lagi, James McAvoy nya keren banget.
Dia memerankan seorang pria bernama Wesley yang menjalani kehidupan yang membosankan, pekerjaannya sebagai akuntan dengan bos yang galak, dan pacarnya yang selingkuh dengan rekan kerjanya yang bermuka dua. Ditambah lagi ia memiliki suatu kekuatan yang tak ia sadari, yaitu dapat melihat sesuatu dengan gerakan lambat, yang ia anggap suatu penyakit.
Dan tiba-tiba saja pertemuannya dengan seorang wanita bernama Fox (Angelina Jolie) mengubah jalan hidupnya untuk selamanya, dan akhirnya mengetahui ayah kandungnya. Seorang pria biasa yang tak punya kekuatan dan keberanian sama sekali, tiba-tiba saja dilatih dengan keras menjadi seorang pembunuh handal dan masuk ke sebuah organisasi pembunuh bernama The Fraternity milik pria bernama Sloan (Morgan Freeman), demi membunuh sang pembunuh ayahnya yang juga mantan anggota The Fraternity.
Pada akhirnya, semua orang yang baru ia kenal tersebut membuatnya harus cepat membuat pilihan, percaya kepada siapa?
Nonton film ini, gak henti-hentinya kita dibuat kaget dengan alur ceritanya dan kagum dengan aksi tembak-menembak mereka yang slow-motion.
Termasuk, aksi keren Angelina Jolie saat menembak yang mengingatkan kembali akan Tomb Raider.

July 16, 2008

Weekend Videos



Necrophagist - Extreme Unction (Guitar Hero)
gila pusing liatnya!




Jimi Hendrix - Wild Thing (Live)
enough said...




DEPAPEPE - Start
the best DEPAPEPE's song ever!




Jackson 5 - Sugar Daddy
oh michael, how sweet!

July 13, 2008

JRP Day 1

Mengecewakan.

Dilihat dari penontonnya yang sedikit, membuat acara rock yang seharusnya semangat dan penuh keringat menjadi hampa dan tanpa keringat sama sekali.
Saya datang dari jam 3, sedangkan acara dimulai sejak jam 2. Itu berarti saya ketinggalan satu-dua band.
Sebelum itu saya masih berpikir bahwa acara tersebut mungkin akan ramai, ya setidaknya meriah. Mengingat iklan acara ini yang pertama saya lihat di majalah Rolling Stone yang berkesan 'wah' dengan tulisan '100 Band'nya dengan turut diisi ole band-band Internasional dan band legendaris 70an tanah air.
Ternyata, perkiraan dan harapan saya jauh dengan kenyataan.
Dari awal saya masuk dan membeli tiket, rasanya saya seperti masuk ke sebuah tempat yang sudah saya sewa untuk saya nikmati sendiri, alias hanya saya sendirilah penontonnya. Dalam pemeriksaan pun sama sekali tak ada antrian.
Ketika masuk, hmm, untunglah ternyata setidaknya beberapa manusia terlihat berkeliaran sambil melihat-lihat booth dari sponsor seperti Rolling Stone, Hai, Trax, Green Sand, dll. Segera saya menuju sebuah booth yang berisi merchandise-merchandise dari beberapa band Indie yang
akan tampil hari ini. Pastinya tujuan saya adalah ingin membeli kaos Jakarta Rock Parade untuk kenang-kenangan. Dan ternyata kaos tersebut baru ada besok dan hari minggu. Sucks.

Tiba-tiba, terdengar sekilas lagu 'Gila-Gilaan' yang dibawakan oleh The Changcuters yang berasal dari Outdoor Stage. Segeralah saya menuju ke stage tersebut. Disana hanya segelintir orang-orang yang terlihat menonton, saya masih berpikir mungkin masih terlalu siang bagi orang-orang untuk ke acara ini.


The Changcuters

Setelah aksi panggung yang memukau dari The Changcuters, yang sayangnya hanya sempat saya tonton 2 lagu saja, ada jeda setengah jam dan dilanjutkan oleh The Safari. Dan dalam jeda tersebut saya berpindah ke Park Stage menyaksikan Stupidnation. Baru kali ini saya melihat mereka yang ternyata style, lagu maupun aksi panggung mereka mirip dengan Korn. Tak ketinggalan pula Monkey to Milionaire yang beraksi di Rock Lounge.


The Safari

Setelah The Safari, saya kembali berpindah ke Rock Lounge dan menyaksikan Idealego. Tapi nampaknya mereka masih dalam kondisi sound check yang akhirnya waktu saya habiskan dengan makan sore di warung makanan persis didepannya. Tampak saat itu penonton yang hadir masih sangat sepi, itupun termasuk dengan para personil band-band yang ikut menonton setelah mereka manggung. Jadi acara disana istilahnya 'band nonton band'.
Setelah makan, saya menonton Pee Wee Gaskins di Park Stage. Beberapa mulai berdatangan menonton, tapi masih terbilang sepi.
Waktu menunjukkan pukul 5.30, saya segera menuju ke tennis indoor untuk menonton aksi panggung dari Nidji, yang sebelumnya tak pernah saya tonton aksi panggung mereka. Dan ternyata penampilan mereka cukup membuat kekecewaan saya berkurang karena aksi mereka yang menurut saya profesional, dari segi aksi panggung yang menunjukkan ciri khas Nidji (yah walaupun sepertinya mereka agak kurang semangat karena kecewa dengan penontonnya yang sedikit, karena biasanya mereka tampil dengan massa yang banyak), dan sound system yang memang saya acungi jempol untuk para crew JRP karena sound system dan lighting yang sangat bagus, sangat disayangkan memang ternyata penontonnya sedikit, tak sesuai dengan kualitas
stagenya.


Nidji

Setelah Nidji mengakhiri aksinya, saya keluar dari tennis outdoor dan segera menuju Park Stage untuk menyaksikan Rocket Rockers.
Hari sudah mulai gelap, acara sudah mulai ramai oleh penonton, dan saya terlarut dengan aksi panggung dari Rocket Rockers yang terus-terusan mengungkit soal album terbaru mereka yang selama 2 tahun tak kunjung keluar.
Selesai mereka tampil, saya kembali ke rock lounge dan melihat ada Gribs. Agak terpana juga melihat aksi panggung mereka yang membawakan kembali semangat Heavy Metal 80an dari segi musik sampai kostum panggung mereka, mengingat melihat mereka yang usianya masih muda.


Gribs

Yang lebih membuat saya kesal, ternyata 1/4 dari penonton membawa kamera SLR dan dengan leluasanya karena stage yang sepi mereka asik memoto! Dan saya sangat menyesal, kenapa bisa-bisanya saya meninggalkan kamera SLR saya dirumah!
Jadinya, mau tak mau blog ini terisi hanya dengan hasil foto yang saya ambil lewat kamera handphone yang kualitasnya kurang.

Penampilan Gribs usai, saya kembali ke park stage untuk menyaksikan Superglad. Nampaknya buluk, sang vokalis sangat menikmati stage karena massanya yang sudah cukup banyak, termasuk banyak band yang menonton mereka. Superglad turut memainkan lagu band lainnya seperti Misfits, Motorhead, sampai The Ramones.


where's Jimmy Page?

Puas dengan aksi panggung mereka, kembali ke rock lounge dan menyaksikan Rebecca Theodora dengan bandnya, Bite.
Setelah itu, saya penasaran dengan penampilan dari Noor Bersaudara dan masuk ke tennis indoor. Tampak beberapa penonton yang dominan bapak-bapak dan ibu-ibu yang menonton sambil duduk. Saya pun turut duduk dan menyaksikan lagu terakhir mereka.
Setelah mereka menyelesaikan perfomancenya, semnbari menunggu Shark Move yang akan tampil pada pukul 20.30, saya menyaksikan Pas Band di tennis outdoor hanya sampai lagu pertama. Lalu, karena sepertinya Shark Move sudah akan tampil, saya segera kembali ke tennis indoor.
selingan sebelum Pas Band

Ternyata lagi-lagi saya dibuat kecewa. Bukan karena aksi panggung Shark Move, karena aksi panggung mereka sangat bagus, tapi karena ternyata penonton Shark Move adalah yang paling sedikit! Bayangkan, band sebesar Shark Move malah hanya ditonton beberapa orang saja.
Sedih saya melihatnya. Padahal ini kalinya mereka tampil kembali.
Benny Soebardja pun sepertinya sedih melihat kondisi stagenya yang sepi. Tapi beliau tetap tampil dengan profesional.
Membawakan lagu-lagu lama Shark Move di era 70an dan 80an, plus penampilan Benny Soebardja dengan anaknya membawakan lagu ciptaan anaknya sendiri.


Shark Move

Setelah puas menonton Shark Move, saya melihat aksi Acid Speed yang membawakan lagu Like a Rollingstone dari The Rolling Stone, band yang ditributekan oleh mereka.
Belum selesai mereka main, saya pindah ke park stage untuk menyaksikan The Upstairs.


The Upstairs

Tak sampai habis, kembali ke tennis indoor karena sepertinya gipsy & gank pegangsaan akan tampil. Namun ternyata mereka tak kunjung datang sampai saya kira mereka tak jadi tampil karena sampai saya menyaksikan dua band di rock lounge, yaitu Rock Clinic (I.M.I) dan The Adams pun mereka tak kunjung datang.
Hampir saya pulang, namun saya dengan beberapa penonton yang pastinya dominan orangtua yang hendak bernostalgia, tetap setia menunggu mereka sampai jam 12. Dan usaha kami tak sia-sia. Akhirnya Gipsy & Gank Pegangsaan pun tiba dan membawakan lagu-lagu lama mereka, termasuk ketika Gipsy berkolaborasi dengan Guruh Soekarno Putra alias Guruh Gipsy.


Gipsy & Gank Pegangsaan

Ketika acara benar-benar usai dan saya pun keluar dari tennis indoor, stage yang lain sudah benar-benar kosong.
Sayangnya, hanya hari ini saja yang dapat saya tonton, karena esoknya ada acara keluarga. Padahal besok ada Ucok AKA, Young and Restless dan juga Andy Tielman yang benar-benar saya tunggu kehadiran mereka. Sayang sungguh sayang.

Saya turut berdoa, semoga hari kedua dan ketiga jauh lebih ramai dari hari ini. Kasihan panitianya.
Dan turut kasihan kepada mereka yang kecewa karena BMX Bandits, Silly Fools, dan The Parlotones tak jadi datang.

July 06, 2008

Movie Review: Get Smart

Baru aja habis nonton film ini di PIM XXI sama ade gue. Wah, film ini ngocok perut banget!
Menceritakan tentang sebuah markas pusat agen di Amerika yang diserang dan identitas agen-agennya terbongkar, The Chief (Alan Arkin) terpaksa menugaskan Maxwell Smart (Steve Carrell), Agen 86 yang biasanya hanya bertugas sebagai seorang penyelidik karena kemampuannya untuk bertugas di lapangan yang kurang, untuk menggagalkan sebuah rencana sindikat kriminal bernama KAOS yang memproduksi nuklir. Tapi ia kecewa karena partner kerjanya hanyalah seorang wanita yang baru saja operasi plastik untuk mengubah wajahnya, padahal agent 99 (Anne Hathaway) ini lebih berpengalaman dibanding Smart. Dikarenakan Smart lebih menginginkan Agent 23 (The Rock) yang populer karena selalu berhasil dalam tugasnya.
Yang bikin kocak, kelakuan si Smart ini ketika sedang menjalani tugasnya sebagai agen 'amatir' yang selalu sial, namun pada akhirnya dialah yang menyelamatkan mereka semua, termasuk Presiden Amerika!
Cuma gue agak kecewa pas dibagian Agent 99 salah paham tentang Agent 86, mengira bahwa Agent 86 adalah agen-ganda.
Tadinya gue sempet kaget, menyangka kalo si Agent 86 itu beneran agen-ganda. Wah, gak kebayang banget kan yang daritadi udah ketawa ngeliat aksi konyolnya si Agent 86, tiba-tiba sebenernya dia adalah agen-ganda. Keren banget dong acting 'sok-sok konyol bego' si Agent 86 itu.
Tapi ternyata bukan. Yang agen-gandanya itu bukan Agent 86 melainkan salah satu dari temannya.
Pertama emang gue bilang "monyet, gue udah kagum tadinya, gak jadi deh"
Tapi setelah gue pikir-pikir, kalo alur ceritanya dibikin seperti yang gue pikir tadi, malah endingnya juga jadi aneh.
Masa tiba-tiba film humor gitu endingnya jadi serius? Gak lucu juga kan. Garing banget pasti.
Ternyata endingnya gak ngecewain. Keren! Salut deh buat actingnya Steve Carrell dan Anne Hathaway.
Oh ya, gue sempet kaget juga ngeliat tampangnya si Masi Oka (itu loh si Hiro di Heroes) jadi salah satu rekan Agent 86 sewaktu jadi penyelidik.
Goblok banget dia main di film ini! Perannya kocak, apalagi pas adegan dia lagi pura-pura mau nangkep Agent 86. Tampangnya di film ini juga jadi bloon banget sesuai karakternya. Di film ini juga dia ceritanya berdua sama temennya tuh kayak suka bikin peralatan yang aneh-aneh ajaib
gitu buat keperluan agent.
Wah, kalo lo belum nonton, cepet deh sana nonton!