September 16, 2008

RIP: Richard Wright of Pink Floyd


Richard Wright, founder dari grup musik rock Pink Floyd, meninggal pada hari senin, 15 September 2008 pada umur 65.
Doug Wright, pembicara dari Pink Floyd mengatakan bahwa Wright meninggal setelah perang melawan kanker di rumahnya di Inggris. Dia mengatakan bahwa anggota keluarga band tidak mau memberikan detail lebih lanjut mengenai kematiannya.
Goodbye, Wright. Rest in peace..

September 12, 2008

September 11, 2008

New CRAZE Blackberry 8800 CRAZE Edition

Movie Review: Bangkok Dangerous


Release Date: 5 September 2008 (USA), 11 September 2008 (Indonesia)
Studio: Lionsgate
Director: Oxide Pang, Danny Pang
Screen Writers (WGA): Jason Richman (screenplay), Oxide Pang (1999 film)
Cast: Nicholas Cage (Joe), Shahkrit Yamnarm (Kong), Charlie Yeung (Fon), Panward Hemmanee (Aom), Nirattisai Kaljareuk (Surat)
Genre: Action, Crime, Thriller
MPAA Rating: Rated R for violence, language and some sexuality


Berprofesi sebagai pembunuh bayaran profesional yang tak pernah gagal dalam tugasnya dan tak meninggalkan jejak apapun, Joe (Nicholas Cage) pergi ke Bangkok untuk memenuhi panggilan dari seorang ketua mafia bernama Surat (Nirattisai Kaljareuk) yang tak kenal ampun dalam menghabisi lawannya tanpa mengotori tangannya. Sesampainya disana, iapun menemukan seorang pencopet jalanan bernama Kong (Shahkrit Yamnarm) untuk menjadi penyampai pesan dan juga sebagai kaki tangannya, walau pada akhirnya Kong pun akan dibunuhnya untuk menghilangkan jejak.
Di Bangkok inilah pertama kalinya kehidupan Joe berubah. Joe yang berhati dingin dan selalu menyendiri, baru kali ini menjadi akrab dengan kaki tangannya itu, dan malah turut menjadi gurunya. Juga ketika ia pergi ke apotek untuk membeli obat, menemukan seorang wanita bisu tuli yang menjadi penjaga toko; Fon (Charlie Yeung), yang seketika dapat melembutkan hatinya yang dingin dan membuatnya jatuh cinta. Semua itu membuat Joe menjadi lengah dan beberapa kali hampir gagal dalam tugasnya, membuat Surat memutuskan untuk membersihkan semuanya, termasuk Joe, Kong, dan kekasih Kong bernama Aom (Panward Hemmanee), gadis bar yang turut memberi pesan dari Surat.
Iapun berhadapan dengan dua pilihan; kabur dari tugasnya dan menjalani kehidupan normal dengan Fon, atau melanjutkan tugasnya dan menjadi kaya raya.


Film ini adalah remake dari film yang berjudul Gangster 1999, yang juga disutradarai oleh Pang bersaudara (Danny dan Oxide Pang). Nama mereka berdua sudah tak diragukan lagi, dengan pernah menggarap film The Eye dan The Messenger.
Remake kali ini terbilang cukup berhasil. Dengan hasil yang lebih bagus dari film sebelumnya, memang digarap dengan serius dengan menghabiskan dana sebesar US$ 45 juta (seratus kali lipat dari dana film sebelumnya).
Banyak terdapat efek-efek yang keren di film ini. Dan juga beberapa perbedaan cerita dengan film sebelumnya. Pada Gangster 1999, tokoh utamanya ada pada Kong, yang disini menjadi hitman-nya, dan karakter bisu tuli nya ada padanya, bukan Fon. Sedangkan di film ini, Kong malah berpindah menjadi tokoh kedua sebagai kaki tangan sang tokoh utama.
Sesuatu yang menarik disini, bahwa di film ini Bangkok ditampilkan secara nyata dan tak ada unsur pemanis sama sekali.

September 10, 2008

SBY's Birthday


HAPPY 59th BIRTHDAY, MR.PRESIDENT
Istana Negara, September 9th, 2008

Chromeo - Momma's Boy

10 Questions: Shawn Mortensen



Comingtrough (CT): Finally I can enjoy your work by your new official website. Why start now?

Shawn Mortensen (SM): I WANTED TO GIVE THE PUBLIC A BROADER ACCESS TO MY WORK ... & I FINALLY FOUND WEBDESIGNERS WHO WERE UP TO THE CHALLENGE ! HHH

CT: Where is your inspiration from during make shots? Is that spontaneity?

SM: I TRY TO KEEP MY WORK SPONTANEOUS, AUTHENTIC, & INTIMATE.
LEADING UP TO A PORTRAIT OR PHOTO-ESSAY I DO A LOT OF RESEARCH ON MY SUBJECTS & OTHER IMAGES OF THEM. I TRY TO CREATE SOMETHING THAT GIVES AN INFORMED VIEW OF MY SUBJECTS.

CT: Best and worst experienced you have from your job?

SM: THE WORST EXPERIENCE WAS VOMITING BLOOD in 2005 DUE TO STRESS.
THE BEST EXPERIENCE HAS SIMPLY BEEN THE ABILITY TO HAVE ACCESS TO INCREDIBLE PEOPLE, TO HAVE THEIR TRUST, & TO BE ABLE TO SEE THE WORLD & DIVERSE CULTURES INTIMATELY.

CT: What do you want to be when 7? Is that occurred in your mind to be an artist in that time?

SM: WHEN I WAS 7 I WAS ALREADY AN ARTIST. I WAS BORN AS AN ARTIST. MY MOM WAS A PAINTER . WHEN I WAS A KID I ALSO WANTED TO BE A DOCTOR, BUT IN AN INTERESTING SORT OF WAY ... CREATING ICONIC IMAGERY OF PEOPLE CAN HAVE A THERAPUDIC EFFECT ON THEM & HOW THEY SEE THEMSELVES !

CT: You said that you are currently at work on your third to be released in 2008. What is it about?

SM: MY 3rd BOOK is ACTUALLY TWO BOOKS I AM WORKING ON CONCURRENTLY; A BOOK ABOUT "THE ZAPATISTA MOVEMENT" WHICH I'VE BEEN WORKING ON SINCE 1994 & THE OTHER IS A SORT OF COMPANION BOOK TO "OUT OF MIND' CALLED 'OUT OF SIGHT' !

CT: In your job, mostly be an advocate influence your artist's job, or the other way?

SM: HAVING BEEN A WITNESS TO MANY OF THE WORST'S PROBLEMS 1st HAND ... I THINK IT'S A NATURAL HUMAN RESPONSE TO SOMEHOW ASPIRE TO WORK AT SOLUTIONS TO THOSE PROBLEMS. AS AN ARTIST, I AM INNATELY AWARE OF HOW MUCH CULTURAL FORCES LIKE MUSIC, FILM, ART, & PHOTOGRAPHY HAS IN INFLUENCING PEOPLE'S OPINIONS & EMOTIONS. ALTHOUGH CREATING ART CAN FEEL LIKE A FEEBLE ATTEMPT TO "MAKE A DIFFERENCE" ... SOMETIMES THE ACTION OF SIMPLY "BEING PRESENT" IS ENOUGH TO AFFECT CHANGE.
HUMAN RIGHTS GROUPS ENCOURAGED MY PRESENCE WITH MY CAMERA IN CHIAPAS, MEXICO IN 1994 - AS IT WOULD MAKE IT HARDER FOR A MILITARY MASSACRE - WITH PHOTOJOURNALISTS PRESENT. THAT IS A PRIMARY REASON WHY PHOTOGRAPHERS/ PHOTO-JOURNALISTS ARE FREQUENTLY TARGETS IN CONFLICT ZONES TODAY . PEOPLE ARE AWARE OF HOW INFLUENTIAL PHOTOGRAPHY IS ... & HOW EASILY IT CAN BE DISSEMINATED THROUGHOUT THE WORLD !

CT: Which do you prefer; fashion, band/stage, celeb and artist potrait, advertising, or travel photography? BW or color? And why?

SM: I ENJOY ANY OCCASION WHEN I AM ABLE TO PHOTOGRAPH PEOPLE IN AN INTIMATE & HOPEFULLY TIMELESS WAY ! I ASPIRE TO "BLUR THE LINES' BETWEEN THOSE DEFINITIONS OR CATAGORIES !

CT: Sometimes, are you interest to make a photosession in Indonesia for your global travel photo-essay?

SM: I AM VERY CURIOUS ABOUT INDONESIA. I WOULD LIKE TO SPEND SOME MONTHS THERE !

CT: Who is masterpiece that you want to admit as 'your masterpiece' in this world?

SM: I BELIEVE THAT MY PHOTOGRAPH OF TUPAC SHAKUR IS ONE OF MY FAVORITE PORTRAITS ... AS WELL AS BEING BETTER KNOWN ... YET I WOULD NOT CALL ANY OF MY WORKS 'MASTERPIECES'.

CT: Describe Shawn Mortensen in 3 words.

SM: TRIES HIS BEST !




September 09, 2008

Henry Holland and Levi's 501


Henry Holland berkolaborasi dengan Levi's 501 dalam sebuah show selama London Fashion Week yang diadakan pada tanggal 17 September. Henry mengadaptasi dari ikon jeans pertama yang dibuat pada tahun 1873 oleh Levi Strauss dan Jacob Davis. Terinspirasi oleh Beverley Hills 90210 untuk enam designnya yang dibuat untuk Levi's 501.
These jeans will be avaible from the men's 'Superbrands' floor in Selfridges on the 18th September, one day after the show.

Vice: The Clowny Clown Clown Issue


Time Paradoks


Apakah kamu sering mengalami hal seperti ini-kehilangan barang secara tiba-tiba, padahal kau ingat persis sedetik sebelumnya barangmu itu masih ada di sebelahmu. Dan ketika kau cari, tak pernah ketemu sampai detik ini juga.
Saya seringkali mengalaminya, dan itu sangat menyulitkan. bagaimana rasanya jika barang kesayangan tiba-tiba hilang, sudah dicari dengan susah payah membongkar seisi rumah tetap tak ditemukan. So fuckin' asshole, right?

Ada tiga versi yang ada dalam pikiran saya ketika hal tersebut terjadi:
1. Versi science fiction.
Terjadi time paradoks-teori mengenai kontradiksi dalam perjalanan menembus waktu dikarenakan berbagai hal yang berpotensi mengubah sejarah. Jadi ceritanya, karena pada masa sekarang barang kesayangan saya tersebut hilang, dan masa depan yang ternyata sudah tercipta mesin waktu, saya di masa depan menggunakannya dan kembali ke masa sekarang untuk mengambil barang yang hilang tersebut. Intinya, yang menghilangkan barang tersebut juga adalah..saya sendiri.
2. Versi gaib.
Memang ada makhluk usil yang menggoda iman saya dan memindahkan/mengambil barang saya.
3. Versi realistis.
Emang guenya aja yang teledor!

Untuk versi yang pertama, saya sering mengkhayal mengenai time paradoks. Apakah benar, kejadian-kejadian aneh dan tak masuk akal yang terjadi di masa lampau, bisa jadi dikarenakan adanya time paradoks? Walau banyak peneliti yang berpendapat hal tersebut kemungkinan besar tidak mungkin, walaupun setelah Einstein mengeluarkan teori relativitasnya. Apakah mungkin di masa depan manusia dapat bermain-main dengan waktu seperti itu?
Suatu alasan pastinya ada pro dan kontranya:
Pro: Everythings can happen in this world. Jika Allah menghendaki, kun fayakun.
Dan juga dilihat dari teknologi yang semakin hari perkembangannya sangat pesat, bisa jadi.
Kontra: Sungguh berbahaya jika manusia dapat bermain waktu seperti itu. Bayangkan saja, jika manusia dapat seenaknya mengubah masa lalu, masa sekarang pun saya kira tak akan ada. Hancur. Dan tuhan juga membuat manusia selalu berbuat kesalahan adalah untuk belajar, bukan?

Tentu saya lebih memilih yang kontra. Lebih baik tak akan ada yang namanya mesin waktu. Biarkan manusia tetap bisa berusaha memperbaiki kesalahannya. Rasanya akan lebih puas dibandingkan dengan cara instan.
Intinya, sebenarnya barang saya itu hilang kemana?

September 08, 2008

Tidbits


Car House
"arsitek jenius"



Nike Shoe Burger
'gimana gak ngiler..."



Shopping-Cart Bike
'my dream ride"



Chopstick Spoon
"multiguna"

An Invitation - Inara George with Van Dyke Parks


Inara George with Van Dyke Parks
An Invitation
[Everloving; 2008]
****
Styles: orchestral pop, vocal jazz
Others: The Bird & the Bee, Madeleine Peyroux, Norah Jones

Lagu yang paling pas untuk pengantar tidur. Sentuhan orkestra pop yang kental dari Van Dyke Parks, beradu dengan suara jazz merdu khas milik Inara George.
Dari 13 track yang ada, seakan kita dibawa ke dunia dongeng Disney dan berdansa duet di tengah ballroom.

Duet - Inara George

September 07, 2008

Pembohong Anak Kecil

Satu keinginan yang paling terpatri di dalam otakku pada saat dewasa nanti adalah, menjadi seorang ibu yang tidak membodohi anaknya.
Sedih rasanya ketika di tempat umum, melihat seorang ibu yang menenangkan anaknya yang sedang menangis dengan berkata, “aduh naak, cup cup jangan nangis lagi ya.. nanti bisa digigit setan loh”
Memang terdengar sepele. Sangat sepele. Namun, hal sepele tersebutlah yang selama ini memenuhi pikiran saya. Ada apa dengan sosok seorang ibu di abad 21 ini? Apakah dengan menakuti anak dengan cerita-cerita konyol seperti itu akan membuat anakmu berhenti menangis dan mempercayai perkataanmu?
Kasus seperti itu memang banyak terjadi, sangat banyak malah. Jika saya bertanya padamu, berapa kali dalam seminggu kau melihat pemandangan seorang ibu-ibu pembohong anak kecil, mungkin kau akan menjawab sering. Hancur sudah konsep seorang ibu Indonesia yang mendidik di mata saya saat ini. Tak jarang pula saya berpikir dan hendak bertanya, bagaimana dengan ibu saya di masa lampau? Apakah ibu juga sama seperti mereka, menyuapiku dengan mitos-mitos tak masuk akal?
Terjadi pula pro dan kontra dalam otak saya. Pro terjadi, ketika saya melihat kejadian seperti itu dan berkata dalam hati, “Ada apa dengan moral bangsa kita yang semakin hari semakin turun dengan hal sederhana seperti ini? Bukankah lebih baik jika ibu tersebut berkata masuk akal dan mendidik? Banyak yang berkata seorang anak kecil tak baik menonton sinetron kacangan saat ini yang berkedok menghibur dan melucu, namun di dalamnya membodohi (dan amat sangat jayus, heran dengan orang yang tertawa saat menontonnya). Padahal jika dipikir, apa bedanya sinetron tersebut dengan ibu yang membodohi anak seperti itu?
Kontra pun turut berbicara, “jangan lupa, hal-hal surrealis seperti itu pun yang mengembangkan imajinasi anak dan membuatnya semakin kreatif”
Otak saya pun dipenuhi dengan perdebatan antara pro dan kontra. Namun saya pikir, pro lah yang menang. Setelah dipikir lagi, imajinasi apa yang akan muncul jika seorang ibu berbohong seperti tadi, atau seperti “nak, cup cup lihat di langit tuh ada sapi terbang!” (untuk yang ini serius, saya pernah melihatnya dan sedikit tertawa karenanya. How ridiculous, right?), lalu “jangan bandel! Nanti ibu tinggalin di pinggir jalan, biar diculik nanti sama om-om naik jip” (ini yang paling saya benci, mengingat perkataan adalah doa, apalagi perkataan seorang ibu. Bodoh sekali seorang ibu sekejam itu menyodorkan anaknya sendiri ke penculik, yang jika itu menjadi kenyataan ibu tersebut saya yakin akan meraung-raung keliling kota menyebarkan pamflet anak hilang. Dan untuk kata-kata ‘om-om naik jip’, semakin membuat image pengguna mobil Jeep adalah penculik anak, seperti yang ada di sinetron. Saudara kecil saya termasuk korban image ini dan takut tiap kali melihat Jeep).
Bukankah lebih baik mengembangkan imajinasi anak dengan cerita-cerita Disney yang walau surreal tetapi tetap mendidik dan tak membodohi? Walau memang, ketika dewasa pun sosok seorang ibu pembohong anak kecil itu akan hilang bersama mitos-mitos bodoh anak tersebut. Tetap saja, saya lebih suka melihat ibu yang berkata “jangan nangis ya nak, kalau nangis terus nanti kamu bikin sedih ibu, kalu bikin sedih ibu nanti surga di telapak kaki ibu akan tertutup untuk kamu. Dan ibu tidak mau itu”
Ada pula yang berpendapat bahwa seorang anak kecil juga tidak baik jika terlalu berpikiran seperti orang dewasa (atau yang biasa disebut KETU, KEcil-kecil TUa), dikhawatirkan masa kanak-kanak yang ceria akan hilang.
Memang, saya juga sedikit menyetujui pendapat itu. Kadang menyebalkan juga kan, jika melihat seorang anak kecil berbicara layaknya orang dewasa dan menyatakan pendapatnya.
NAH! Itu dia yang selama ini salah persepsi. Saya akui, saya pun seringkali sedikit jengkel dan berkata dalam hati, “ini anak ketu banget sih, masih kecil main aja sama Barbie, gak usah ikut campur urusan dewasa”. Namun, jika dipikirkan lagi, pendapat anak kecil jangan disepelekan. Karena apa? Saya yakin, di dalam otak anak kecil, masih terdapat banyak sekali ide-ide cemerlang yang sayangnya jika ia katakan malah terkesan sok tahu. Padahal, jika kamu mau saja mendengar pendapat mereka, terutama bagi orangtua, itu akan sangat bagus bagi perkembangannya. Dibanding dengan kasus ‘ibu pembohong anak kecil’ tadi. Cobalah kamu ingat-ingat kembali kenangan masa kecil, pasti suatu waktu kamu pernah jengkel pula ketika orangtuamu meremehkan pendapatmu yang menurutmu benar, bukan?
Lama-lama, saya kok jadi berceloteh bak seorang psikolog anak saja ya. Tapi setidaknya, ada sedikit keinginan dalam hati, untuk membuat sebuah seminar mengenai hal ini. Suatu saat.

Weekend Videos



Step Up 2: The Streets 'Subway Prank'
(yeah I know this video is so last year, but I still loving it more and moree..)



Wild Beasts - Brave Bulging Buoyant Clairvoyants
(Reminds me with a manga called 'Uzumaki')



Honking Fail
(Go Grandma! LOL)



Diana Ross - Beat It @ Central Park 1983
(What happened to you, Diana?)