Satu keinginan yang paling terpatri di dalam otakku pada saat dewasa nanti adalah, menjadi seorang ibu yang tidak membodohi anaknya.
Sedih rasanya ketika di tempat umum, melihat seorang ibu yang menenangkan anaknya yang sedang menangis dengan berkata, “aduh naak, cup cup jangan nangis lagi ya.. nanti bisa digigit setan loh”
Memang terdengar sepele. Sangat sepele. Namun, hal sepele tersebutlah yang selama ini memenuhi pikiran saya. Ada apa dengan sosok seorang ibu di abad 21 ini? Apakah dengan menakuti anak dengan cerita-cerita konyol seperti itu akan membuat anakmu berhenti menangis dan mempercayai perkataanmu?
Kasus seperti itu memang banyak terjadi, sangat banyak malah. Jika saya bertanya padamu, berapa kali dalam seminggu kau melihat pemandangan seorang ibu-ibu pembohong anak kecil, mungkin kau akan menjawab sering. Hancur sudah konsep seorang ibu Indonesia yang mendidik di mata saya saat ini. Tak jarang pula saya berpikir dan hendak bertanya, bagaimana dengan ibu saya di masa lampau? Apakah ibu juga sama seperti mereka, menyuapiku dengan mitos-mitos tak masuk akal?
Terjadi pula pro dan kontra dalam otak saya. Pro terjadi, ketika saya melihat kejadian seperti itu dan berkata dalam hati, “Ada apa dengan moral bangsa kita yang semakin hari semakin turun dengan hal sederhana seperti ini? Bukankah lebih baik jika ibu tersebut berkata masuk akal dan mendidik? Banyak yang berkata seorang anak kecil tak baik menonton sinetron kacangan saat ini yang berkedok menghibur dan melucu, namun di dalamnya membodohi (dan amat sangat jayus, heran dengan orang yang tertawa saat menontonnya). Padahal jika dipikir, apa bedanya sinetron tersebut dengan ibu yang membodohi anak seperti itu?
Kontra pun turut berbicara, “jangan lupa, hal-hal surrealis seperti itu pun yang mengembangkan imajinasi anak dan membuatnya semakin kreatif”
Otak saya pun dipenuhi dengan perdebatan antara pro dan kontra. Namun saya pikir, pro lah yang menang. Setelah dipikir lagi, imajinasi apa yang akan muncul jika seorang ibu berbohong seperti tadi, atau seperti “nak, cup cup lihat di langit tuh ada sapi terbang!” (untuk yang ini serius, saya pernah melihatnya dan sedikit tertawa karenanya. How ridiculous, right?), lalu “jangan bandel! Nanti ibu tinggalin di pinggir jalan, biar diculik nanti sama om-om naik jip” (ini yang paling saya benci, mengingat perkataan adalah doa, apalagi perkataan seorang ibu. Bodoh sekali seorang ibu sekejam itu menyodorkan anaknya sendiri ke penculik, yang jika itu menjadi kenyataan ibu tersebut saya yakin akan meraung-raung keliling kota menyebarkan pamflet anak hilang. Dan untuk kata-kata ‘om-om naik jip’, semakin membuat image pengguna mobil Jeep adalah penculik anak, seperti yang ada di sinetron. Saudara kecil saya termasuk korban image ini dan takut tiap kali melihat Jeep).
Bukankah lebih baik mengembangkan imajinasi anak dengan cerita-cerita Disney yang walau surreal tetapi tetap mendidik dan tak membodohi? Walau memang, ketika dewasa pun sosok seorang ibu pembohong anak kecil itu akan hilang bersama mitos-mitos bodoh anak tersebut. Tetap saja, saya lebih suka melihat ibu yang berkata “jangan nangis ya nak, kalau nangis terus nanti kamu bikin sedih ibu, kalu bikin sedih ibu nanti surga di telapak kaki ibu akan tertutup untuk kamu. Dan ibu tidak mau itu”
Ada pula yang berpendapat bahwa seorang anak kecil juga tidak baik jika terlalu berpikiran seperti orang dewasa (atau yang biasa disebut KETU, KEcil-kecil TUa), dikhawatirkan masa kanak-kanak yang ceria akan hilang.
Memang, saya juga sedikit menyetujui pendapat itu. Kadang menyebalkan juga kan, jika melihat seorang anak kecil berbicara layaknya orang dewasa dan menyatakan pendapatnya.
NAH! Itu dia yang selama ini salah persepsi. Saya akui, saya pun seringkali sedikit jengkel dan berkata dalam hati, “ini anak ketu banget sih, masih kecil main aja sama Barbie, gak usah ikut campur urusan dewasa”. Namun, jika dipikirkan lagi, pendapat anak kecil jangan disepelekan. Karena apa? Saya yakin, di dalam otak anak kecil, masih terdapat banyak sekali ide-ide cemerlang yang sayangnya jika ia katakan malah terkesan sok tahu. Padahal, jika kamu mau saja mendengar pendapat mereka, terutama bagi orangtua, itu akan sangat bagus bagi perkembangannya. Dibanding dengan kasus ‘ibu pembohong anak kecil’ tadi. Cobalah kamu ingat-ingat kembali kenangan masa kecil, pasti suatu waktu kamu pernah jengkel pula ketika orangtuamu meremehkan pendapatmu yang menurutmu benar, bukan?
Lama-lama, saya kok jadi berceloteh bak seorang psikolog anak saja ya. Tapi setidaknya, ada sedikit keinginan dalam hati, untuk membuat sebuah seminar mengenai hal ini. Suatu saat.