August 21, 2008

Movie Review: Wall-E


Release Date: June 27, 2008
Studio: Walt Disney Pictures, Pixar Animation Studios
Director: Andrew Stanton
Screenwriter: Andrew Stanton
Starring: Fred Willard, Jeff Garlin, Sigourney Weaver, John Ratzenberger, Kathy Najimy, Ben Burtt
Genre: Adventure, Animation
MPAA Rating: G

Disney-Pixar memang tak ada habisnya dalam membuat suatu animasi berisikan cerita yang unik.
Kali ini dengan mengusung Science-Fiction, dengan Andrew Stanton, sang sutradara yang turut menyutradarai Finding Nemo, menghadirkan sesosok robot yang tersisa untuk bertugas membersihkan sampah-sampah di Bumi. Sang robot yang bernama Wall-E (Benjamin Burtt) dengan kesehariannya membersihkan bumi selama 700 tahun berubah menjadi robot yang memiliki perasaan, dan akhirnya merasa kesepian dengan hanya ditemani oleh seekor kecoa, satu-satunya makhluk hidup yang tersisa.
Ditengah kesendiriannya, datanglah sesosok robot modern yang bertugas mencari tumbuhan yang tersisa di Bumi bernama Eve, yang menumbuhkan rasa cinta dari diri Wall-E.
Sayangnya, usaha pendekatan Wall-E terhadap Eve kerap gagal dikarenakan Eve adalah robot modern yang tak berperasaan dan terprogram. Namun segalanya berubah, sejak Eve menemukan sepucuk tumbuhan yang disimpan Wall-E dan tugasnya yang telah selesai membawanya kembali ke kapal ruang angkasa raksasa yang selama ini menjadi tempat tinggal
baru bagi manusia, Axiom. Wall-E yang telah jatuh cinta pada Eve pun tak bisa lepas darinya hingga membawanya ikut serta menuju dunia baru bagi manusia yang sudah menjadi makhluk gendut dan lemah, karena hidupnya yang sudah serba mudah oleh robot.

Film yang hanya menampilkan sedikit dialog ini, memperlihatkan warna-warna yang gelap dan futuristik, sungguh berbeda dengan film-film Disney-Pixar sebelumnya yang penuh warna dan berkesan ceria. Juga terlihat banyak pesan 'efek dari global warming', namun dibawakan dengan cara yang berbeda dan unik. Tak lupa pula, film ini akan membuat banyak penonton merasa kaget dan jengkel melihat 'cucu-cucunya' kelak menjadi seperti itu.

Cerita seperti ini mengingatkan saya pada beberapa cerita sejenis yang sudah ada, mengenai masa depan yang serba mudah dan dikendalikan oleh robot, dan membuat manusia menjadi sosok yang lemah.
Contohnya, sebuah episode dari komik Paman Gober, yang menceritakan tentang persaingan Paman Gober dan lawan bisnisnya (saya lupa namanya), dalam membuat suatu teknologi yang memudahkan manusia, seperti mulanya mereka bersaing membuat bak mandi yang berisikan bermacam-macam kebutuhan, seperti radio, TV, bahkan microwave dan kemudian bak mandi tersebut bisa berjalan.
Lalu berlanjut dengan kursi yang bisa terbang, dan lain lain yang akhirnya membuat semua orang jadi lupa cara berjalan.
Sama seperti sebuah episode satu buku dari Doraemon, yang menceritakan dunia lain yang ceritanya hampir sama dengan Wall-E, manusia yang sudah bergantung dengan robot, hingga akhirnya robotlah yang menguasai manusia.

Contoh mudahnya seperti itu.
Sebenarnya tak hanya dua cerita tersebut, masih banyak komik, novel maupun film yang menceritakan 'Robot menguasai Dunia'. Terdengar seramkah? Lalu bagaimana dengan usaha para ilmuan dalam membuat robot sempurna hingga saat ini? Apakah masa depan akan tercermin dari cerita-cerita tersebut? Ataukah dari sekarang kita harus menghindari pembuatan robot?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut kerap muncul di kepala saya dan mungkin manusia yang lain, atau mungkin kamu.
Lalu, apakah ada masanya nanti, saat pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, iya atau tidak?
Atau bahkan sesuai dengan khayalan terbaik kita, dimana masa depan yang berteknologi, namun tak membuat ibu Bumi terlihat menyeramkan seperti yang kita saksikan di film Wall-E tersebut, beratmosfer sangat kotor, sampah menggunung, makhluk hidup dan air punah?
Pertanyaan tersebut hanya bisa terjawabkan dengan perbuatan.

Sungguh saya sangat salut dengan Disney-Pixar dengan membuat animasi seperti ini. Cerita yang sudah ada, namun dengan versi yang patut diacungi jempol. Ceritanya tak ada unsur menggurui, namun, setiap orang yang menontonnya, entah sadar atau tidak, saya yakin, didalam lubuk hatinya yang paling dalam tersimpan setitik niat untuk merawat ibu bumi kita.

No comments: